BIMA
Kebanyakan orang pasti berfikir bahwa kata tersebut adalah perwujudan dari nama salah satu tokoh dalam pewayangan tradisional Jawa, atau ada juga yang berfikir kata itu adalah
salah satu produk jamu terkenal di indonesia... hehehe
Tapi Bima yang saya maksud adalah sebuah kota disalah satu kabupaten di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
nah, kalo orang sudah mendengar nama Nusa Tenggara Barat, yang ada difikiran mereka... lagi-lagi LOMBOK, karena memang... Pulau Lombok lebih terkenal dbandingkan Pulau Sumbawa, padahal Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa adalah bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Pulau Sumbawa memiliki beberapa Kabupaten, salah satunya adalah BIMA
disanalah asal muasal garis keturunan dari keluarga saya.
Pulau Sumbawa memiliki beberapa Kabupaten, salah satunya adalah BIMA
disanalah asal muasal garis keturunan dari keluarga saya.
Bima memang unik dengan beragam tarian tradisional baik yang lahir dari Istana maupun di luar Istana. Pada masa lalu, terutama pada zaman ke-emasan. Kesultanan Bima, Seni tari dan atraksi seni budaya tradisioanl merupakan salah satu cabang seni yang sangat populer. Pengembangan seni tari mendapat perhatian dari pemerintah kesultanan.
Kala itu, Istana Bima (Asi Mbojo) tidak hanya berfungsi sebagai pusat Pemerintahan namun Asi juga merupakan pusat pengembangan seni dan budaya tradisional.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (Sultan Bima yang kedua) yang memerintahkan antara tahun 1640-1682 M, seni budaya tradisional berkembang cukup pesat. Hingga saat ini seiring berjalannya waktu, beberapa seni tari dan atraksi seni budaya tradisional itu masih tetap eksis.
Salah satu kesenian yang paling saya suka adalah RAWA MBOJO kani BIOLA
yang berarti LAGU BIMA dengan menggunakan alat musik BIOLA.
Syair dan senandung Rawa Mbojo didominasi pantun khas Bima yang berisi nasehat dan petuah, kadang pula jenaka dan menggelitik. Ini adalah sebuah warisan budaya tutur yang tak ternilai untuk generasi. Dalam Rawa Mbojo terdapat beragam lirik yang dikenal dengan istilah Ntoro. Ada Ntoko Tambora, Ntoko Lopi Penge, dan Ntoko lainnya. Tiap Ntoko memiliki khas masing-masing. Misalnya Ntoko Tambora dilantunkan dalam syair dan irama yang mengambarkan kemegahan alam. Ntoko Lopi Penge mengambarkan suasana laut dan gelombang. Syair dan pantun yang dilantunkan pun dikemukakan secara spontan sesuai keadaan. Itulah kelebihan dari para pelantun Rawa Mbojo. Meskipun tidak bisa membaca dan menulis, namun mereka sangat piawai melantunkannya secara spontanitas.
terkadang saking cepatnya berpantun sambil bernyanyi, saya sendiri sampai tidak mengerti apa arti yang dimaksud tersebut... maklumlah... bahasa bima saya masih belum 'excellent' hehehe...
Selain kesenian Rawa Mbojo, masih banyak kesenian traditional yang lain.
intinya.... saya bangga menjadi orang BIMA ....
RIMPU

bersambung...............................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar